Minggu, 25 Oktober 2015

Ruang Lingkup Filsafat Ilmu



          Filsafat dan ilmu merupakan dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa. Oleh karena itu para dewa harus dihormati, ditakuti dan disembah. Adanya filsafat mengubah pola pikir seperti itu sehingga mereka mempunyai pemikiran yang berdasarkan rasio (akal). Perkembangan filsafat pun semakin pesat saat ini, oleh karenanya perlu adanya suatu kontrol yang dapat membuat filsafat tidak kehilangan tujuannya.

A.    Ilmu Sebagai Objek Kajian Filsafat
Setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan. Sedangkan objek formal adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada. Adapun objek material filsafat adalah segala yang ada di dunia ini, baik itu yang tampak maupun yang tidak tampak. Sebagian filosof membagi objek material filsafat menjadi 3 bagian :
1.    Yang ada dalam alam empiris.
2.    Yang ada dalam pikiran.
3.    Yang ada dalam kemugkinan.

Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan dengan ilmu karena ilmu hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan yang non-empiris. Lebih jauh lagi para filosof menganggap bahwa filsafat ialah induk berbagai ilmu. Mengapa? Karena pada kenyataannya ilmu-ilmu modern dan kontemporer berkembang dari filsafat sehingga manusia dapat menikmati buah dari ilmu tersebut yakni teknologi. Disebabkan oleh laju perkembangan dan spesialisasi ilmu yang semakin marak, maka tugas filsafat juga yakni untuk menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan.

B.       Pengertian Filsafat Ilmu
1.      Filsafat dan Hikmah
Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy. Dalam bahasa Yunani philosophia yang terdiri dari dua kata : philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Adapun pakar filsafat disebut juga filosof.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam, baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Banyak para ahli yang mencoba untuk merepresentasikan apa itu filsafat. Namun secara garis besar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan arti yakni pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya.
Intisari berfilsafat itu ada dalam pembahasan dan bukan pada definisi. Namun definisi filsafat untuk dijadikan patokan awal yang diperlukan untuk memberi arah dan cakupan objek yang dibahas, terutama yang terkait dengan filsafat ilmu. Seorang filosof yang pertama kali menggunakan kata filsafat yakni Phytagoras (572-497 SM) mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi ke dalam 3 tipe : mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan dan mereka yang mencintai kebijaksanaan. Tujuan kebijaksanaan dalam pandangannya menyangkut kemajuan menuju keselamatan dalam hal keagamaan. Oleh karenanya asal mula kata filsafat itu sangat umum yang intinya adalah mencari keutamaan mental (the pursuit of mental excellence). (Mudhafar : 1996)
Salah satu makna filsafat sendiri adalah mengutamakan dan mencintai hikmah. Ibnu Mundzir menjelaskan bahwa istilah hikmah berarti terhindar dari kerusakan dan kezaliman karena hikmah adalah ilmu yang sempurna dan manfaat. (Juhaya: 2002). Hikmah sebagai pradigma keilmuan mempunyai 3 unsur utama, yaitu : 1. Masalah, 2. Fakta dan data, 3. Analisis ilmuwan dengan teori. Al-Syaybani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan mencari sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menginterpretasikan pengalaman-pengalaman manusia. (Nata : hlm.1)
2.    Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa Arab : ‘alima, ya’lamu, ‘ilman dengan wazan fa’ila, yaf’alu yang artinya mengerti, memahami benar-benar. Secara garis besar ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan kumulatif. Adapun perbedaan antara ilmu dan pengetahuan yakni bahwa ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Dapat juga dikatakan bahwa pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme tertentu.
            Setelah dipahami pengertian filsafat, ilmu dan pengetahuan. Maka dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu sehingga filsafat ilmu perlu menjawab beberapa persoalan berikut ini:
1.        Pertanyaan landasan ontologis (objek apa yang ditelaah?)
2.        Pertanyaan landasan epistemologis (Bagaimana proses pengetahuan yang masih berserakan dan tidak teratur itu menjadi ilmu?)
3.        Pertanyaan landasan aksiologis (untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?

3.   Persamaan dan Perbedaan Filsafat dan Ilmu
Persamaan Filsafat dan Ilmu adalah sebagai berikut :
-            Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya dan menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.
-            Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada antara kejadian-kejadian dialami oleh manusia.
-            Keduanya hendak memberikan sintesis (suatu pandangan yang bergandengan).
-            Keduanya mempunyai metode dan sistem.
-            Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan yang timbul dari hasrat manusia (objektivitas).

Adapun perbedaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut :
-            Objek material filsafat itu bersifat universal (umum) yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek material ilmu bersifat khusus dan empiris.
-            Objek formal (sudut pandangan) filsafat itu bersifat non-fragmentaris karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sebaliknya ilmu bersifat fragmentaris, spesifik dan intensif.
-            Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error.
-            Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif yakni menguraikan secara logis dan dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
-            Filsafat memberikan penjelasan yang mendalam sampai mendasar (primary cause) sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat dan yang sekunder (secondary cause).

C.      Tujuan Filsafat Ilmu
1.        Mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2.        Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3.        Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non-ilmiah.
4.        Mendorong calon ilmuwan untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
5.        Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak akan ada pertentangan.


Sumber bacaan :
Bakhtiar, Amsal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Press.