Minggu, 25 Oktober 2015

Ruang Lingkup Filsafat Ilmu



          Filsafat dan ilmu merupakan dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa. Oleh karena itu para dewa harus dihormati, ditakuti dan disembah. Adanya filsafat mengubah pola pikir seperti itu sehingga mereka mempunyai pemikiran yang berdasarkan rasio (akal). Perkembangan filsafat pun semakin pesat saat ini, oleh karenanya perlu adanya suatu kontrol yang dapat membuat filsafat tidak kehilangan tujuannya.

A.    Ilmu Sebagai Objek Kajian Filsafat
Setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan. Sedangkan objek formal adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada. Adapun objek material filsafat adalah segala yang ada di dunia ini, baik itu yang tampak maupun yang tidak tampak. Sebagian filosof membagi objek material filsafat menjadi 3 bagian :
1.    Yang ada dalam alam empiris.
2.    Yang ada dalam pikiran.
3.    Yang ada dalam kemugkinan.

Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan dengan ilmu karena ilmu hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan yang non-empiris. Lebih jauh lagi para filosof menganggap bahwa filsafat ialah induk berbagai ilmu. Mengapa? Karena pada kenyataannya ilmu-ilmu modern dan kontemporer berkembang dari filsafat sehingga manusia dapat menikmati buah dari ilmu tersebut yakni teknologi. Disebabkan oleh laju perkembangan dan spesialisasi ilmu yang semakin marak, maka tugas filsafat juga yakni untuk menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan.

B.       Pengertian Filsafat Ilmu
1.      Filsafat dan Hikmah
Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy. Dalam bahasa Yunani philosophia yang terdiri dari dua kata : philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Adapun pakar filsafat disebut juga filosof.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam, baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Banyak para ahli yang mencoba untuk merepresentasikan apa itu filsafat. Namun secara garis besar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan arti yakni pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya.
Intisari berfilsafat itu ada dalam pembahasan dan bukan pada definisi. Namun definisi filsafat untuk dijadikan patokan awal yang diperlukan untuk memberi arah dan cakupan objek yang dibahas, terutama yang terkait dengan filsafat ilmu. Seorang filosof yang pertama kali menggunakan kata filsafat yakni Phytagoras (572-497 SM) mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi ke dalam 3 tipe : mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan dan mereka yang mencintai kebijaksanaan. Tujuan kebijaksanaan dalam pandangannya menyangkut kemajuan menuju keselamatan dalam hal keagamaan. Oleh karenanya asal mula kata filsafat itu sangat umum yang intinya adalah mencari keutamaan mental (the pursuit of mental excellence). (Mudhafar : 1996)
Salah satu makna filsafat sendiri adalah mengutamakan dan mencintai hikmah. Ibnu Mundzir menjelaskan bahwa istilah hikmah berarti terhindar dari kerusakan dan kezaliman karena hikmah adalah ilmu yang sempurna dan manfaat. (Juhaya: 2002). Hikmah sebagai pradigma keilmuan mempunyai 3 unsur utama, yaitu : 1. Masalah, 2. Fakta dan data, 3. Analisis ilmuwan dengan teori. Al-Syaybani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan mencari sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menginterpretasikan pengalaman-pengalaman manusia. (Nata : hlm.1)
2.    Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa Arab : ‘alima, ya’lamu, ‘ilman dengan wazan fa’ila, yaf’alu yang artinya mengerti, memahami benar-benar. Secara garis besar ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan kumulatif. Adapun perbedaan antara ilmu dan pengetahuan yakni bahwa ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Dapat juga dikatakan bahwa pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme tertentu.
            Setelah dipahami pengertian filsafat, ilmu dan pengetahuan. Maka dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu sehingga filsafat ilmu perlu menjawab beberapa persoalan berikut ini:
1.        Pertanyaan landasan ontologis (objek apa yang ditelaah?)
2.        Pertanyaan landasan epistemologis (Bagaimana proses pengetahuan yang masih berserakan dan tidak teratur itu menjadi ilmu?)
3.        Pertanyaan landasan aksiologis (untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?

3.   Persamaan dan Perbedaan Filsafat dan Ilmu
Persamaan Filsafat dan Ilmu adalah sebagai berikut :
-            Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya dan menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.
-            Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada antara kejadian-kejadian dialami oleh manusia.
-            Keduanya hendak memberikan sintesis (suatu pandangan yang bergandengan).
-            Keduanya mempunyai metode dan sistem.
-            Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan yang timbul dari hasrat manusia (objektivitas).

Adapun perbedaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut :
-            Objek material filsafat itu bersifat universal (umum) yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek material ilmu bersifat khusus dan empiris.
-            Objek formal (sudut pandangan) filsafat itu bersifat non-fragmentaris karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sebaliknya ilmu bersifat fragmentaris, spesifik dan intensif.
-            Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error.
-            Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif yakni menguraikan secara logis dan dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
-            Filsafat memberikan penjelasan yang mendalam sampai mendasar (primary cause) sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat dan yang sekunder (secondary cause).

C.      Tujuan Filsafat Ilmu
1.        Mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2.        Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3.        Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non-ilmiah.
4.        Mendorong calon ilmuwan untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
5.        Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak akan ada pertentangan.


Sumber bacaan :
Bakhtiar, Amsal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Press.

Rabu, 26 Agustus 2015

Last but not least, thanks LPDP & UNPAD


Dulu kau pernah bilang, tak ada yang membedakan selamat datang dan selamat tinggal. Keduanya tersirat dalam lambaian tangan..
(Sapardi Djoko Damono)

Yap, kutipan di atas rasanya paling mengena dengan apa yang kurasakan saat ini. Tepat pada tanggal 27 April 2015 aku dan para peserta lain dikumpulkan dalam suatu pertemuan yang dinamakan Kelas Pengayaan Bahasa Inggris di Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Kelas ini memang bukan sebatas kelas biasa, kelas pengayaan ini diadakan untuk para awardee LPDP Program Beasiswa Afirmasi Tahap 1 2015. Tujuannya jelas yakni guna meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sebagai modal menempuh pendidikan di tingkat Magister kelak. Kami yang pada awalnya tidak saling mengenal satu sama lain pun, akhirnya mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman yang lain. Secara pribadi, memang Jatinangor sudah tidak asing lagi bagi aku karena aku sudah pernah merantau di kota perbatasan itu hampir 4 tahun untuk menuntut ilmu. Namun sudah hampir 8 bulan saat itu aku tidak pernah menginjakkan kaki di Jatinangor, tepatnya setelah lulus S1 :D
            Back to topic yaahhh, jadi keasyikan nostalgia.. Hehe..  Hari pertama diawali dengan pembukaan kelas pengayaan tersebut. Ini yang paling tidak ingin ku dengar, mengapa harus ada kata pembukaan, jika ada kata penutupan ?
Kami berjumlah 21 orang dalam satu kelas dan dikumpulkan dengan beragam macam latar belakang, bahasan dan budaya yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari Papua, Makassar, Medan, Aceh, Kalimantan, Palembang, Palu, Bengkulu, Bandung, Jakarta dan saya sendiri yang berasal dari Bogor :D Walaupun begitu, kami tetap satu. Satu Indonesia Raya !! (tiba-tiba jiwa nasionalisme muncul, hehe). Awalnya mungkin memang tidak mudah untuk kami bersosialisasi secara cepat, maklum menyatukan beberapa kepala dengan background yang beragam tampaknya tidak smeudah membalikkan telapak tangan. Namun siapa yang menyangka bahwa dalam kurun waktu 3 bulan kami menjalani aktivitas bersama-sama, kami sudah merasa sangat dekat dan akrab. Dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore kami belajar Bahasa Inggris diajar oleh para dosen Sastra Inggris Unpad. Mungkin rasa penat sempat menghinggapi diri kami masing-masing, namun semua itu terbayar dengan peningkatan ilmu Bahasa Inggris kami terutama saat mengerjakan soal-soal TOEFL, Alhamdulillah....
Bukankah siapa yang sungguh-sungguh, maka akan mendapatkan hasil yang ia tuai ?
Bukan hanya wawasan kami yang semakin luas, tapi juga ada pengalaman yang tidak bisa kami dapatkan di luar sana serta rasa kekeluargaan yang semakin erat setiap harinya. Aku bisa mengenal banyak karakter dari mereka dan semakin bersyukur setiap harinya bahwa ALLAH SWT sudah menempatkanku di tempat yang bisa menjadi ladang ilmuku kelak. Maka hari di mana awal yang baru itu pun tiba. Aku tak mau menyebutnya sebagai hari penutupan karena toh nyatanya kami tidak berpisah, kami sama-sama berada di bumi pertiwi nan indah ini, hanya saja ada jarak yang terbentang di antara kami. Tidak terasa memang, saat itu tanggal 10 agustus 2015, kami semua memulai awal yang baru sebagai puzzle kehidupan kami di tempat yang beragam, ada yang melanjutkan studi Magister ke Universitas Padjadjaran,  Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Pendidikan Indonesia dan lain-lain. Tidak pernah terbayangkan bahwa ternyata kami semua menitikkan air mata hari itu, hari yang sangat bersejarah karena ternyata waktu yang singkat seolah tidak menjadi penentu untuk keakraban dan kebersaman kami yang sudah sangat dekat tersebut.
Terima kasih LPDP Batch 2 UNPAD !!
Kalian adalah teman, sahabat, saudara dan keluarga yang luar biasaaaaaa :D
Sampai jumpa di lain kesempatan yang lebih baik lagi dari sekarang.. Aamiin ya robbal alamiin..
See you on top, guys !!

Dream comes true, LPDP Scholarship !!!

Bermimpilah karena kelak Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu..
Kutipan Andrea Hirata di atas seolah menjadi semangat tersendiri untukku. Dengan mimpi lah justru kita memulai kenyataan. Hal itu kuyakini dan suatu hari aku mengutarakan keinginanku kepada ibuku untuk melanjutkan study ke jenjang Magister. Saat itu ada raut bahagia sekalipun kecemasan yang terpancar dari parasnya. Aku cukup mengerti mengapa ibuku tidak langsung memelukku saat itu sambil berkata :
“Iya Nak, ibu akan menyekolahkanmu ke jenjang S2”.
Kalimat pertama yang justru terlontar yakni :
“Ibu akan selalu mendo’akanmu dan mendukung apapun yang kamu inginkan, Nak”.
Sederhana bukan kalimat itu?
Tapi ternyata ucapan ibu saat itu lah yang mengantarkanku pada untaian mimpi seorang sarjana muda yang bertekad menuntut ilmu.
Setelah menyelesaikan kuliah dan bekerja di sebuah salah satu perusahaan nasional yang bergerak di bidang media, keinginanku untuk menggali ilmu yang belum banyak kuketahui tetap tinggi. Saat itu aku tetap menanamkan rasa optimis dalam diri, walaupun belum ada kejelasan kabar mengenai lamaran beasiswa yang kuajukan diterima atau tidak. Bagaimana tidak, application yang kukirim via email dan pos hampir 3 bulan lalu tidak juga ada kabarnya. Sampai pada suatu hari saat aku iseng mengecek email di meja kerjaku, ada email masuk satu hari yang lalu dan di badan email tersebut tertera bahwa aku lulus tahap administrasi dan diundang untuk wawancara serta LGD (Leaderless Group Discussion) di Tangerang.
Kala itu, aku senang bukan main karena penantianku selama ini membuahkan hasil. Ya walaupun masih dalam tahap wawancara sih. Setidaknya itu menjadi awal yang baik untuk merajut ”mimpi” yang ada dalam diri ini dan masih ada harapan untuk menyambung mimpi-mimpi yang lainnya lagi.
Tiba pada hari H, aku pun berangkat ke Tangerang untuk melaksanakan serangkaian tes  selanjutnya. Tak perlu ditanya bagaimana ded-degan aku saat itu. Namun saat aku melangkahkan kaki ke luar rumah, yang terpenting ialah aku sudah mengantongi restu dan do’a dari ibuku. Sederhana saja, bukankah keridhaan ALLAH SWT itu juga ada pada keridhaan orang tua?
Singkat cerita, sebulan kemudian setelah aku mengikuti seleksi wawancara. Akhirnya pengumuman dan SK lulus itu pun keluar. Awalnya aku tidak berani melihat hasil yang kutunggu-tunggu itu secara langsung, namun ada rasa penasaran yang menggelayoti dalam diri. Tampaknya hal itu kali pertama aku ragu mengunduh suatu file, mungkin karena di dalam dokumen itu akan ada jawaban tentang mimpi yang kuidam-idamkan sejak lulus kuliah atau bahkan mimpi-mimpi lain yang harus kurajut dari awal. Aku pandangi nama-nama yang disusun berdasarkan abjad tersebut dan mataku berhenti pada urutan H, Hilda Septriani. Air mataku pun langsung mengembang waktu itu dan saat teman kerjaku yang mejanya bersebelahan denganku mengejutkanku, aku sadar bahwa aku tidak sedang terlelap tidur dan bermimpi. Namun ini lah yang dinamakan mimpi yang berubah menjadi kenyataan. ALHAMDULILLAH aku lulus Beasiswa LPDP Program Afirmasi Tahap 1 2015 !!
Jadi jangan pernah takut untuk bermimpi, kita boleh bermimpi setinggi langit dan jika memang harus terjatuh pun maka kita akan jatuh di antara bintang-bintang J

Jatinangor dengan udara paginya yang sejuk..

5 Agustus 2015, 6.35 AM

Minggu, 05 April 2015

Perahu itu bernama Bidikmisi



Apa itu beasiswa Bidikmisi?

Pertanyaan itulah yang muncul di benakku pertama kali ketika hendak mendaftar kuliah setelah dinyatakan lulus SMA. Jujur saja pada awalnya aku tidak tahu apa itu beasiswa Bidikmisi, bagaimana persyaratannya dan bagaimana prosedur pendaftarannya. Sampai pada suatu hari guru SMA ku menjelaskan mengenai spesifikasi beasiswa Bidikmisi ini. Aku memang sudah berkeinginan kuat untuk melanjutkan studi ke universitas kala itu tapi rupanya aku harus berbenturan dengan keadaan ekonomi keluargaku. Dan saat itu aku juga tidak mungkin merengek-rengek minta dikuliahkan kepada ibuku. Motivasi yang selalu tumbuh dalam diriku rupanya dilihat oleh guru-guruku sehingga salah satu dari mereka menyarankan aku untuk mendaftar beasiswa Bidikmisi ke Universitas Padjadjaran. Aku pun mengikuti saran beliau, berbekal dokumen-dokumen yang harus kulengkapi aku dan 50 orang teman – temanku di SMA mencoba untuk mengukir masa depan kami melalui program beasiswa yang mulia ini. Yang aku tau saat itu, beasiswa Bidikmisi adalah program beasiswa yang diselenggarakan oleh pemerintah, di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (aku ingat sekali saat itu Menterinya yaitu Bapak Muhammad Nuh) pada masa pemerintahan presiden Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Beasiswa Bidikmisi ini diperuntukkan untuk siswa-siswi berprestasi namun berasal dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Dan baru diadakan pertama kali yaitu pada tahun 2010. Itu artinya aku merupakan angkatan pertama yang memperoleh beasiswa ini. Walaupun aku termasuk yang mendaftar di tahun pertama, namun aku merasa bahwa seleksinya pun sudah ketat saat itu. Maklum karena para kandidat beasiswa ini pun tersebar di seluruh Indonesia sehingga kita juga harus bersaing dengan ribuan siswa-siswa lain yang juga memiliki segudang prestasi yang membanggakan. Namun beasiswa ini juga cukup adil dan serangkaian tesnya pun dilakukan secara objektif. 

Secara pribadi aku ingin mengucapkan terima kasih kepada ALLAH SWT, kepada pemerintahan Bapak SBY, segenap keluarga besar Kemendikbud Bapak M. Nuh dan juga untuk rakyat Indonesia. Aku sangat menyadari bahwa aku dapat mengenyam pendidikan di bangku kuliah karena beasiswa Bidikmisi yang dananya berasal dari uang rakyat. Kesadaran itulah yang menjadikanku semakin semangat dan tidak main – main dalam belajar dan menuntuk ilmu di universitas.

Oya, sampai saat ini beasiswa Bidikmisi tetap diadakan lho, jadi persiapkan diri kalian ya untuk kuliah di universitas impian kalian :)

Story of me...


Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menuliskan cerita dan pengalaman hidup aku di blog ini. Bukan untuk tujuan apa-apa, melainkan hanya untuk berbagi kepada sesama. Sampai baru hari ini semua bisa terwujud dan ini adalah pertama kalinya aku menulis, tentunya di luar tugas mengarang di kelas dan skripsi ya. Hehe.. Aku adalah seseorang yang memiliki mimpi-mimpi besar dalam hidup dan ingin membahagiakan orang tuaku. Saat lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMAN 1 Cibinong, aku berencana untuk mencari pekerjaan di daerah tempat tinggal aku. Aku tinggal di Cibinong, yakni sebuah daerah yang sedang berkembang di daerah kabupaten Bogor. 

Jujur di dalam hati aku yang terdalam terbesit keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjana. Tapi saat itu aku mencoba untuk realistis melihat keadaan keluarga aku, terutama dalam hal financial. Namun secercah harapan pun mulai timbul, ketika itu aku dipanggil oleh salah satu humas kurikulum sekolah dan beliau merekomendasikan aku untuk mendaftar ke Universitas Gadjah Mada melalui jalur beasiswa. Aku pun semangat sekali untuk mengumpulkan dan mengurus berkas-berkas pendaftaran yang dibutuhkan karena memang aku memiliki keinginan yang kuat untuk kuliah. Setelah mengirimkan semua dokumen yang dibutuhkan, sebulan kemudian aku mendapat informasi bahwa berkas aku ditolak dengan alasan jurusan yang aku pilih berada dalam passing grade teratas. Ketika itu yang aku tahu hanya lah mendaftar pada jurusan yang aku minati dan belum memahami apa itu passing grade. Aku pun mencoba untuk ikhlas dan berdamai dengan keadaan dan mungkin memang aku harus bekerja terlebih dahulu. Namun pertolongan ALLAH SWT datang di waktu yang tepat, aku kembali direkomendasikan untuk mendaftar program beasiswa ke Universitas Padjadjaran, program beasiswa itu bernama beasiswa Bidikmisi. Aku memilih jurusan Sastra Jerman karena memang aku menyukai bahasa Jerman dan menurut aku bahasa Jerman itu memiliki keunikan tersendiri. Sejujurnya saat aku menyiapkan semua berkas pendaftaran, semangat aku tidak terlalu menggebu-gebu ketika aku mendaftar ke universitas sebelumnya karena aku takut kecewa akan hasilnya. 

Saat pengumuman itu tiba, aku pun agak takut-takut untuk melihatnya namun aku mencoba untuk memberanikan diri untuk melihat pengumuman tersebut via online. Dan Alhamdulillah ternyata aku lulus dan resmi menyandang status sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran. Aku langsung memberi tahu ibuku dan mengucapkan terima kasih karena berkat do’anya lah aku bisa lulus beasiswa Bidikmisi ini. Aku percaya bahwa ridho ALLAH SWT juga merupakan ridho orang tua. Saat itu ibuku juga sangat bahagia sekaligus sedih karena harus melepaskan aku merantau ke Bandung, maklum aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara dan dikenal anak manja kalau di rumah. Hehehe..

Singkat cerita, aku pun harus mengekos di Jatinangor (read: perbatasan Bandung dan Sumedang). Universitas Padjadjaran secara geografis memang terletak di Bandung tapi untuk program S1 nya lebih banyak ada di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Dan entah mengapa aku bersyukur karena Sastra Jerman Fakultas Ilmu Budaya berada di wilayah Jatinangor, walaupun daerah ini tidak terlalu modern seperti Bandung tapi di Jatinangor aku merasa lebih nyaman untuk menuntut ilmu, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Hidup di daerah rantau memang tidak mudah, aku harus beradaptasi dengan orang-orang dan lingkungan yang sebelumnya pernah kukenal sama sekali. Tapi justru di sana lah aku belajar mandiri agar tidak manja.
So, untuk kalian semua yang mempunyai mimpi besar dalam hidup ini. Jangan pernah takut untuk bermimpi. Aku yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan mengenyam pendidikan di bangku kuliah, kini alhamdulillah telah menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Padjadjaran.

Quote yang melekat di benakku salah satunya berbunyi seperti ini : Saat bermimpi, kamu boleh menutup mata namun bukalah matamu saat ingin mewujudkannya..

Bogor, 25 Maret 2015
00.15 WIB