Filsafat dan ilmu merupakan dua kata
yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran
ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat
keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa
Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris
menjadi logosentris. Awalnya bangsa
Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini
dipengaruhi oleh para dewa. Oleh karena itu para dewa harus dihormati, ditakuti
dan disembah. Adanya filsafat mengubah pola pikir seperti itu sehingga mereka
mempunyai pemikiran yang berdasarkan rasio (akal). Perkembangan filsafat pun
semakin pesat saat ini, oleh karenanya perlu adanya suatu kontrol yang dapat
membuat filsafat tidak kehilangan tujuannya.
A.
Ilmu Sebagai Objek Kajian Filsafat
Setiap
ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek
material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan. Sedangkan objek
formal adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan
induktif dan deduktif. Objek formal filsafat adalah sudut pandang yang
menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada. Adapun objek material
filsafat adalah segala yang ada di dunia ini, baik itu yang tampak maupun yang
tidak tampak. Sebagian filosof membagi objek material filsafat menjadi 3 bagian
:
1.
Yang ada dalam
alam empiris.
2.
Yang ada dalam
pikiran.
3.
Yang ada dalam
kemugkinan.
Cakupan objek filsafat
lebih luas dibandingkan dengan ilmu karena ilmu hanya terbatas pada persoalan
yang empiris saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan yang
non-empiris. Lebih jauh lagi para filosof menganggap bahwa filsafat ialah induk
berbagai ilmu. Mengapa? Karena pada kenyataannya ilmu-ilmu modern dan
kontemporer berkembang dari filsafat sehingga manusia dapat menikmati buah dari
ilmu tersebut yakni teknologi. Disebabkan oleh laju perkembangan dan
spesialisasi ilmu yang semakin marak, maka tugas filsafat juga yakni untuk
menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara
berbagai kepentingan.
B.
Pengertian Filsafat Ilmu
1.
Filsafat dan
Hikmah
Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy.
Dalam bahasa Yunani philosophia yang terdiri dari dua kata : philos
(cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah,
kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi).
Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love
of wisdom). Adapun pakar filsafat disebut juga filosof.
Pengertian filsafat secara terminologi
sangat beragam, baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Banyak para ahli
yang mencoba untuk merepresentasikan apa itu filsafat. Namun secara garis besar
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan arti yakni
pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada,
sebab, asal dan hukumnya.
Intisari berfilsafat itu ada dalam
pembahasan dan bukan pada definisi. Namun definisi filsafat untuk dijadikan
patokan awal yang diperlukan untuk memberi arah dan cakupan objek yang dibahas,
terutama yang terkait dengan filsafat ilmu. Seorang filosof yang pertama kali
menggunakan kata filsafat yakni Phytagoras (572-497 SM) mengemukakan bahwa
manusia dapat dibagi ke dalam 3 tipe : mereka yang mencintai kesenangan, mereka
yang mencintai kegiatan dan mereka yang mencintai kebijaksanaan. Tujuan
kebijaksanaan dalam pandangannya menyangkut kemajuan menuju keselamatan dalam
hal keagamaan. Oleh karenanya asal mula kata filsafat itu sangat umum yang
intinya adalah mencari keutamaan mental (the
pursuit of mental excellence). (Mudhafar : 1996)
Salah satu makna filsafat sendiri adalah
mengutamakan dan mencintai hikmah. Ibnu Mundzir menjelaskan bahwa istilah
hikmah berarti terhindar dari kerusakan dan kezaliman karena hikmah adalah ilmu
yang sempurna dan manfaat. (Juhaya: 2002). Hikmah sebagai pradigma keilmuan
mempunyai 3 unsur utama, yaitu : 1. Masalah, 2. Fakta dan data, 3. Analisis
ilmuwan dengan teori. Al-Syaybani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu
sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya,
memusatkan perhatian padanya dan mencari sikap positif terhadapnya. Selanjutnya
ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu,
berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menginterpretasikan
pengalaman-pengalaman manusia. (Nata : hlm.1)
2.
Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari
bahasa Arab : ‘alima, ya’lamu, ‘ilman dengan wazan fa’ila, yaf’alu
yang artinya mengerti, memahami benar-benar. Secara garis besar ilmu adalah
sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu yaitu
sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan
kumulatif. Adapun perbedaan antara ilmu dan pengetahuan yakni bahwa ilmu adalah
bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem dan terukur serta dapat
dibuktikan kebenarannya secara empiris. Dapat juga dikatakan bahwa pengetahuan
adalah informasi yang berupa common sense,
sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena
memiliki metode dan mekanisme tertentu.
Setelah
dipahami pengertian filsafat, ilmu dan pengetahuan. Maka dapat disimpulkan
bahwa filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu
sehingga filsafat ilmu perlu menjawab beberapa persoalan berikut ini:
1.
Pertanyaan
landasan ontologis (objek apa yang ditelaah?)
2.
Pertanyaan
landasan epistemologis (Bagaimana proses pengetahuan yang masih
berserakan dan tidak teratur itu menjadi ilmu?)
3.
Pertanyaan
landasan aksiologis (untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu
dipergunakan?
3. Persamaan
dan Perbedaan Filsafat dan Ilmu
Persamaan Filsafat dan
Ilmu adalah sebagai berikut :
-
Keduanya mencari
rumusan yang sebaik-baiknya dan menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai
ke akar-akarnya.
-
Keduanya
memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada antara kejadian-kejadian dialami
oleh manusia.
-
Keduanya hendak
memberikan sintesis (suatu pandangan yang bergandengan).
-
Keduanya mempunyai
metode dan sistem.
-
Keduanya hendak
memberikan penjelasan tentang kenyataan yang timbul dari hasrat manusia
(objektivitas).
Adapun perbedaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut :
-
Objek material
filsafat itu bersifat universal (umum) yaitu segala sesuatu yang ada (realita)
sedangkan objek material ilmu bersifat khusus dan empiris.
-
Objek formal
(sudut pandangan) filsafat itu bersifat non-fragmentaris karena mencari
pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar.
Sebaliknya ilmu bersifat fragmentaris, spesifik dan intensif.
-
Filsafat
dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi,
kritis dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial
and error.
-
Filsafat memuat
pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas
sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif yakni menguraikan secara logis
dan dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
-
Filsafat
memberikan penjelasan yang mendalam sampai mendasar (primary cause)
sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih
dekat dan yang sekunder (secondary
cause).
C.
Tujuan Filsafat
Ilmu
1.
Mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat
memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2.
Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai
bidang sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara
historis.
3.
Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan
tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non-ilmiah.
4.
Mendorong calon ilmuwan untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan
mengembangkannya.
5.
Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama
tidak akan ada pertentangan.
Sumber bacaan :
Bakhtiar, Amsal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Press.