Rabu, 26 Agustus 2015

Last but not least, thanks LPDP & UNPAD


Dulu kau pernah bilang, tak ada yang membedakan selamat datang dan selamat tinggal. Keduanya tersirat dalam lambaian tangan..
(Sapardi Djoko Damono)

Yap, kutipan di atas rasanya paling mengena dengan apa yang kurasakan saat ini. Tepat pada tanggal 27 April 2015 aku dan para peserta lain dikumpulkan dalam suatu pertemuan yang dinamakan Kelas Pengayaan Bahasa Inggris di Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Kelas ini memang bukan sebatas kelas biasa, kelas pengayaan ini diadakan untuk para awardee LPDP Program Beasiswa Afirmasi Tahap 1 2015. Tujuannya jelas yakni guna meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sebagai modal menempuh pendidikan di tingkat Magister kelak. Kami yang pada awalnya tidak saling mengenal satu sama lain pun, akhirnya mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman yang lain. Secara pribadi, memang Jatinangor sudah tidak asing lagi bagi aku karena aku sudah pernah merantau di kota perbatasan itu hampir 4 tahun untuk menuntut ilmu. Namun sudah hampir 8 bulan saat itu aku tidak pernah menginjakkan kaki di Jatinangor, tepatnya setelah lulus S1 :D
            Back to topic yaahhh, jadi keasyikan nostalgia.. Hehe..  Hari pertama diawali dengan pembukaan kelas pengayaan tersebut. Ini yang paling tidak ingin ku dengar, mengapa harus ada kata pembukaan, jika ada kata penutupan ?
Kami berjumlah 21 orang dalam satu kelas dan dikumpulkan dengan beragam macam latar belakang, bahasan dan budaya yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari Papua, Makassar, Medan, Aceh, Kalimantan, Palembang, Palu, Bengkulu, Bandung, Jakarta dan saya sendiri yang berasal dari Bogor :D Walaupun begitu, kami tetap satu. Satu Indonesia Raya !! (tiba-tiba jiwa nasionalisme muncul, hehe). Awalnya mungkin memang tidak mudah untuk kami bersosialisasi secara cepat, maklum menyatukan beberapa kepala dengan background yang beragam tampaknya tidak smeudah membalikkan telapak tangan. Namun siapa yang menyangka bahwa dalam kurun waktu 3 bulan kami menjalani aktivitas bersama-sama, kami sudah merasa sangat dekat dan akrab. Dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore kami belajar Bahasa Inggris diajar oleh para dosen Sastra Inggris Unpad. Mungkin rasa penat sempat menghinggapi diri kami masing-masing, namun semua itu terbayar dengan peningkatan ilmu Bahasa Inggris kami terutama saat mengerjakan soal-soal TOEFL, Alhamdulillah....
Bukankah siapa yang sungguh-sungguh, maka akan mendapatkan hasil yang ia tuai ?
Bukan hanya wawasan kami yang semakin luas, tapi juga ada pengalaman yang tidak bisa kami dapatkan di luar sana serta rasa kekeluargaan yang semakin erat setiap harinya. Aku bisa mengenal banyak karakter dari mereka dan semakin bersyukur setiap harinya bahwa ALLAH SWT sudah menempatkanku di tempat yang bisa menjadi ladang ilmuku kelak. Maka hari di mana awal yang baru itu pun tiba. Aku tak mau menyebutnya sebagai hari penutupan karena toh nyatanya kami tidak berpisah, kami sama-sama berada di bumi pertiwi nan indah ini, hanya saja ada jarak yang terbentang di antara kami. Tidak terasa memang, saat itu tanggal 10 agustus 2015, kami semua memulai awal yang baru sebagai puzzle kehidupan kami di tempat yang beragam, ada yang melanjutkan studi Magister ke Universitas Padjadjaran,  Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Pendidikan Indonesia dan lain-lain. Tidak pernah terbayangkan bahwa ternyata kami semua menitikkan air mata hari itu, hari yang sangat bersejarah karena ternyata waktu yang singkat seolah tidak menjadi penentu untuk keakraban dan kebersaman kami yang sudah sangat dekat tersebut.
Terima kasih LPDP Batch 2 UNPAD !!
Kalian adalah teman, sahabat, saudara dan keluarga yang luar biasaaaaaa :D
Sampai jumpa di lain kesempatan yang lebih baik lagi dari sekarang.. Aamiin ya robbal alamiin..
See you on top, guys !!

Dream comes true, LPDP Scholarship !!!

Bermimpilah karena kelak Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu..
Kutipan Andrea Hirata di atas seolah menjadi semangat tersendiri untukku. Dengan mimpi lah justru kita memulai kenyataan. Hal itu kuyakini dan suatu hari aku mengutarakan keinginanku kepada ibuku untuk melanjutkan study ke jenjang Magister. Saat itu ada raut bahagia sekalipun kecemasan yang terpancar dari parasnya. Aku cukup mengerti mengapa ibuku tidak langsung memelukku saat itu sambil berkata :
“Iya Nak, ibu akan menyekolahkanmu ke jenjang S2”.
Kalimat pertama yang justru terlontar yakni :
“Ibu akan selalu mendo’akanmu dan mendukung apapun yang kamu inginkan, Nak”.
Sederhana bukan kalimat itu?
Tapi ternyata ucapan ibu saat itu lah yang mengantarkanku pada untaian mimpi seorang sarjana muda yang bertekad menuntut ilmu.
Setelah menyelesaikan kuliah dan bekerja di sebuah salah satu perusahaan nasional yang bergerak di bidang media, keinginanku untuk menggali ilmu yang belum banyak kuketahui tetap tinggi. Saat itu aku tetap menanamkan rasa optimis dalam diri, walaupun belum ada kejelasan kabar mengenai lamaran beasiswa yang kuajukan diterima atau tidak. Bagaimana tidak, application yang kukirim via email dan pos hampir 3 bulan lalu tidak juga ada kabarnya. Sampai pada suatu hari saat aku iseng mengecek email di meja kerjaku, ada email masuk satu hari yang lalu dan di badan email tersebut tertera bahwa aku lulus tahap administrasi dan diundang untuk wawancara serta LGD (Leaderless Group Discussion) di Tangerang.
Kala itu, aku senang bukan main karena penantianku selama ini membuahkan hasil. Ya walaupun masih dalam tahap wawancara sih. Setidaknya itu menjadi awal yang baik untuk merajut ”mimpi” yang ada dalam diri ini dan masih ada harapan untuk menyambung mimpi-mimpi yang lainnya lagi.
Tiba pada hari H, aku pun berangkat ke Tangerang untuk melaksanakan serangkaian tes  selanjutnya. Tak perlu ditanya bagaimana ded-degan aku saat itu. Namun saat aku melangkahkan kaki ke luar rumah, yang terpenting ialah aku sudah mengantongi restu dan do’a dari ibuku. Sederhana saja, bukankah keridhaan ALLAH SWT itu juga ada pada keridhaan orang tua?
Singkat cerita, sebulan kemudian setelah aku mengikuti seleksi wawancara. Akhirnya pengumuman dan SK lulus itu pun keluar. Awalnya aku tidak berani melihat hasil yang kutunggu-tunggu itu secara langsung, namun ada rasa penasaran yang menggelayoti dalam diri. Tampaknya hal itu kali pertama aku ragu mengunduh suatu file, mungkin karena di dalam dokumen itu akan ada jawaban tentang mimpi yang kuidam-idamkan sejak lulus kuliah atau bahkan mimpi-mimpi lain yang harus kurajut dari awal. Aku pandangi nama-nama yang disusun berdasarkan abjad tersebut dan mataku berhenti pada urutan H, Hilda Septriani. Air mataku pun langsung mengembang waktu itu dan saat teman kerjaku yang mejanya bersebelahan denganku mengejutkanku, aku sadar bahwa aku tidak sedang terlelap tidur dan bermimpi. Namun ini lah yang dinamakan mimpi yang berubah menjadi kenyataan. ALHAMDULILLAH aku lulus Beasiswa LPDP Program Afirmasi Tahap 1 2015 !!
Jadi jangan pernah takut untuk bermimpi, kita boleh bermimpi setinggi langit dan jika memang harus terjatuh pun maka kita akan jatuh di antara bintang-bintang J

Jatinangor dengan udara paginya yang sejuk..

5 Agustus 2015, 6.35 AM