Sebenarnya sudah sejak lama aku
ingin menuliskan cerita dan pengalaman hidup aku di blog ini. Bukan untuk
tujuan apa-apa, melainkan hanya untuk berbagi kepada sesama. Sampai baru hari
ini semua bisa terwujud dan ini adalah pertama kalinya aku menulis, tentunya di
luar tugas mengarang di kelas dan skripsi ya. Hehe.. Aku adalah seseorang yang
memiliki mimpi-mimpi besar dalam hidup dan ingin membahagiakan orang tuaku.
Saat lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMAN 1 Cibinong, aku berencana untuk
mencari pekerjaan di daerah tempat tinggal aku. Aku tinggal di Cibinong, yakni
sebuah daerah yang sedang berkembang di daerah kabupaten Bogor.
Jujur di dalam hati aku yang
terdalam terbesit keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat sarjana.
Tapi saat itu aku mencoba untuk realistis melihat keadaan keluarga aku,
terutama dalam hal financial. Namun
secercah harapan pun mulai timbul, ketika itu aku dipanggil oleh salah satu
humas kurikulum sekolah dan beliau merekomendasikan aku untuk mendaftar ke
Universitas Gadjah Mada melalui jalur beasiswa. Aku pun semangat sekali untuk
mengumpulkan dan mengurus berkas-berkas pendaftaran yang dibutuhkan karena
memang aku memiliki keinginan yang kuat untuk kuliah. Setelah mengirimkan semua
dokumen yang dibutuhkan, sebulan kemudian aku mendapat informasi bahwa berkas
aku ditolak dengan alasan jurusan yang aku pilih berada dalam passing grade teratas. Ketika itu yang
aku tahu hanya lah mendaftar pada jurusan yang aku minati dan belum memahami
apa itu passing grade. Aku pun
mencoba untuk ikhlas dan berdamai dengan keadaan dan mungkin memang aku harus
bekerja terlebih dahulu. Namun pertolongan ALLAH SWT datang di waktu yang
tepat, aku kembali direkomendasikan untuk mendaftar program beasiswa ke
Universitas Padjadjaran, program beasiswa itu bernama beasiswa Bidikmisi. Aku
memilih jurusan Sastra Jerman karena memang aku menyukai bahasa Jerman dan
menurut aku bahasa Jerman itu memiliki keunikan tersendiri. Sejujurnya saat aku
menyiapkan semua berkas pendaftaran, semangat aku tidak terlalu menggebu-gebu
ketika aku mendaftar ke universitas sebelumnya karena aku takut kecewa akan
hasilnya.
Saat pengumuman itu tiba, aku pun
agak takut-takut untuk melihatnya namun aku mencoba untuk memberanikan diri
untuk melihat pengumuman tersebut via online. Dan Alhamdulillah ternyata aku
lulus dan resmi menyandang status sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran.
Aku langsung memberi tahu ibuku dan mengucapkan terima kasih karena berkat
do’anya lah aku bisa lulus beasiswa Bidikmisi ini. Aku percaya bahwa ridho
ALLAH SWT juga merupakan ridho orang tua. Saat itu ibuku juga sangat bahagia
sekaligus sedih karena harus melepaskan aku merantau ke Bandung, maklum aku
adalah anak bungsu dari 3 bersaudara dan dikenal anak manja kalau di rumah.
Hehehe..
Singkat cerita, aku pun harus
mengekos di Jatinangor (read: perbatasan Bandung dan Sumedang). Universitas
Padjadjaran secara geografis memang terletak di Bandung tapi untuk program S1
nya lebih banyak ada di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Dan entah mengapa aku
bersyukur karena Sastra Jerman Fakultas Ilmu Budaya berada di wilayah
Jatinangor, walaupun daerah ini tidak terlalu modern seperti Bandung tapi di
Jatinangor aku merasa lebih nyaman untuk menuntut ilmu, jauh dari hiruk pikuk
perkotaan. Hidup di daerah rantau memang tidak mudah, aku harus beradaptasi
dengan orang-orang dan lingkungan yang sebelumnya pernah kukenal sama sekali.
Tapi justru di sana lah aku belajar mandiri agar tidak manja.
So, untuk kalian semua yang
mempunyai mimpi besar dalam hidup ini. Jangan pernah takut untuk bermimpi. Aku
yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan mengenyam pendidikan di bangku
kuliah, kini alhamdulillah telah menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas
Padjadjaran.
Quote yang melekat di benakku salah
satunya berbunyi seperti ini : Saat bermimpi, kamu boleh menutup mata namun
bukalah matamu saat ingin mewujudkannya..
Bogor, 25 Maret 2015
00.15 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar